canalberita.com — Sejumlah saham emiten yang bergerak di bidang perkebunan sawit cenderung melemah di zona merah pada awal perdagangan hari ini, Selasa (3/8/2021). Koreksi ini terjadi di tengah anjloknya harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) hingga lebih dari 4%.
Berikut pergerakan beberapa saham sawit, pukul 10.24 WIB:
Menurut data di atas, dari 13 saham yang diamati, 7 saham melorot, 3 saham stagnan, dan 3 sisanya menguat.
Saham emiten milik Grup Saratoga, PALM, menjadi yang paling ambles, yakni sebesar 3,42% ke Rp 565/saham. Pelemahan ini terjadi setelah kemarin saham PALM melesat 8,33% ke RP 585/saham.
Kendati turun, dalam sepekan saham PALM masih tumbuh 2,73%, sementara dalam sebulan naik 3,67%.
Di bawah PALM, ada saham emiten yang dikuasai Grup Triputra milik taipan TP Rachmat TAPG yang harganya jatuh 2,21% ke Rp 660/saham. Kemarin, saham TAPG juga merosot 2,86% ke Rp 680/saham, setelah pada Kamis dan Jumat pekan lalu menghijau.
Dengan ini, dalam seminggu terakhir saham TAPG ambles 5,04%, sedangkan dalam sebulan anjlok 5,71%.
Berbeda dengan yang lainnya, saham emiten Grup Astra, AALI, naik tipis 0,31% ke Rp 8.050/saham, melanjutkan penguatan 0,94% pada perdagangan Senin kemarin.
Setali tiga uang, saham milik BUMN Malaysia Felda dan Grup Rajawali yang dikendalikan taipan Peter Sondakh, BWPT juga terapresiasi 1,16%. Tidak ketinggalan, saham JAWA mencuat 3,88% ke Rp 134/saham.
Sebelumnya, harga minyak sawit mentah anjlok pada perdagangan pagi ini. Sepertinya aksi ambil untung (profit taking) masih membayangi pergerakan harga CPO.
Pada Senin (2/8) pukul 09:48 WIB, harga CPO di Bursa Malaysia tercatat MYR 4.254/ton. Ambles 4,11% dibandingkan posisi akhir pekan lalu.
Sepertinya investor masih terus berusaha mencairkan cuan dari kontrak CPO. Maklum, dalam sebulan terakhir harga sudah naik 14,42%. Jadi cuan yang didapat memang bukan ‘kaleng-kaleng’.
Wang Tao, analis Komoditas Reuters, memperkirakan aksi profit taking masih akan membuat harga CPO turun lebih lanjut. Setelah gagal menyentuh titik resistance di MYR 4.525/ton, CPO mulai masuk fase jenuh beli (overbought).
“Titik support berada di MYR 4.287/ton. Ketika sudah tertembus, maka harga bisa turun menuju MYR 4.196/ton,” tulis Wang dalam riset hariannya.
Saat ini, lanjut Wang, target terdekat untuk titik resistance harga CPO berada di MYR 4.450/ton. Penembusan di titik ini akan membawa harga ke rentang MYR 4.525-4.606/ton
(Sumber: CNBC)