Bagaimana Diet Meniru Puasa Bisa Membuat Panjang Umur

CANALBERITA.COM-Jika ada metode sederhana untuk menurunkan berat badan dan hidup lebih lama, semua oang pasti ingin mengikutinya. Itulah tepatnya yang ingin disampaikan orang-orang lewat fasting-mimicking diet atau diet meniru puasa (FMD).

Bagian terbaik dari mengikuti pola makan yang meniru puasa ini adalah cara tersebut didukung oleh sains.

Sebuah studi pada bulan Februari 2024 yang diterbitkan di Nature Communications mengaitkan FMD dengan penurunan usia biologis, penurunan risiko penyakit, peningkatan kekebalan, dan peningkatan fungsi metabolisme.

Tahapan Pilkada 2024

FMD adalah diet rendah kalori yang berlangsung selama lima hari dan sebagian besar mengharuskan penganutnya mengonsumsi lemak tak jenuh nabati dan makronutrien dalam jumlah rendah, seperti protein dan karbohidrat.

Selain itu, kita dapat mengonsumsi kalori dari makanan tertentu dalam jumlah terbatas pada waktu tertentu, sehingga tidak benar-benar “berpuasa” dalam pengertian tradisional. Misalnya, kita bisa mengonsumsi 1.100 kalori pada hari pertama, dan mengonsumsi 725 kalori setiap hari pada hari kedua hingga kelima.

FMD diciptakan oleh Dr. Valter Longo dan peneliti dari University of Southern California. Resep-resep dalam diet ini memiliki banyak pilihan dan rasanya tidak harus buruk, termasuk salad roti Tuscan, polenta dan jamur, linguini dengan pesto kacang fava, salad gurita dengan kentang dan kacang hijau, dan masih banyak lagi.

FMD pada dasarnya adalah setengah puasa

Menurut Lena Bakovic, MS, RDN, CNSC, dari Top Nutrition Coaching, “Diet meniru puasa (FMD), dalam istilah dasar, adalah metode puasa di mana tubuh tertipu dalam membedakan puasa yang sebenarnya namun tetap menerima sejumlah kalori dan nutrisi.”

Alasan FMD mengandung kata ‘meniru’ adalah karena dimaksudkan untuk meniru puasa air (hanya minum air), tetapi diseuaikan untuk memudahkan kita menjalaninya.

Apa manfaat FMD?

Seperti disebutkan sebelumnya, penelitian menunjukkan bahwa dengan mengikuti pola makan yang meniru puasa, kita berpotensi mempermuda usia biologis.

Selain itu, Bakovic mengatakan cara ini dapat meningkatkan kesehatan usus dan bermanfaat untuk beberapa kondisi autoimun dan bahkan menghindari perkembangan kanker.

Studi Nature Communications meneliti bagaimana FMD berdampak pada dua populasi klinis pria dan wanita berusia antara 18 dan 70 tahun.

Individu dalam kelompok FMD menjalani siklus diet tiga sampai empat bulanan, di mana mereka mengikuti diet selama lima hari dan kemudian melanjutkan kebiasaan makan normal selama 25 hari.

Selama menjalani diet, mereka makan energi bar, sup nabati, makanan ringan keripik, teh, minuman energi, dan suplemen yang mengandung vitamin, mineral, dan asam lemak esensial.

Orang-orang dalam kelompok kontrol tetap menjalani rutinitas makan normal atau mengikuti pola makan yang terinspirasi dari diet Mediterania.

Hasilnya, kelompok FMD mengungkapkan adanya penurunan risiko diabetes, penurunan lemak perut dan hati, serta penurunan faktor risiko sindrom metabolik. Kelompok ini juga mendapatkan rasio limfoid terhadap myeloid yang lebih tinggi, yang menunjukkan sistem kekebalan tubuh yang lebih muda.

Memudakan usia biologis 

Penelitian juga menunjukkan bahwa mengikuti FMD bisa mempermuda usia biologis sebesar 2,5 tahun pada peserta studi klinis.

“Pengamatan ini mungkin menjadi indikasi bahwa jenis intervensi pola makan ini suatu hari nanti dapat membantu dalam pencegahan penyakit kronis dengan hanya menggunakan pola makan tanpa modifikasi gaya hidup lain seperti aktivitas fisik,” jelas Bakovic.

Sumber: Kompas.com