Tokoh Dayak Dukung Polda Kalteng Ungkap Kasus Pemalsuan Akta Otentik PT BMB

PALANGKA RAYA,CanalBerita-dukungan dan apresiasi terhadap kinerja Polda Kalimantan Tengah dalam mengungkap kasus pemalsuan akta otentik PT Berkala Maju Bersama atau PT BMB terus mengalir.

Setelah dukungan dan apresiasi dari Ormas Dayak Resort KOPPAD Borneo Kalteng, kini datang dari tokoh Dayak yang juga Damang Kepala Adat Jekan Raya Kota Palangka Raya, Drs Kardinal Tarung.

Mantan Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Kalimantan Tengah ini menegaskan, hukum adalah panglima.Oleha krena itu hukum harus dijadikan pedoman utama dalam menyelesaikan permasalahan terkait dengan dugaan pemalsuan akta otentik PT BMB ini.

Tahapan Pilkada 2024

Oleh karena itu, siapa yang terlibat.Tugas aparat penegak hukum-lah yang mengungkap nya dengan tuntas, agar semuanya terang benderang. “Apa saja permasalahan yang terjadi di kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, saya berharap kita kedepan kan hukum menjadi panglima,” tegas Kardinal, di Palangka Raya, Selasa, 23 Mei 2023.

Lebih lanjut Kardinal menegaskan, sebagai Damang Kepala Adat, iya mempercayakan semuanya terkait dengan hukum pida formil yang sedang berjalan kepada aparat penegak hukum untuk melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya.

Mantan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Tengah ini juga berharap kepada aparat penegak hukum dapat memahami bahwa mereka merupakan wakil Allah di bumi.

Oleh karena itu Kardinal Tarung, mengingatkan aparat penegak hukum dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan membayangkan daripada pengadilan di hari akhir nanti.

“Konon ada yang mengatakan bahwa takaran yang kita gunakan untuk menakar orang itu yang digunakan Allah untuk menakar kita apa layak dan berkenan dihadapkan di akhirat nanti,” jelas Kardinal.

Sebagai Damang Kepala Adat, Kardinal Tarung lebih lanjut mengingatkan semua pihak. Termasuk dirinya, bahwa ada ungkapan Dayak “Belum Bahadat” yang menggambarkan tiga sikap citra orang Dayak, salah satunya sikap citra santun karena orang Dayak taat hukum.

“Hukum dapat mengatur cara hidup untuk berkehidupan yang memiliki tatanan hidup tertib, teratur dan pada akhirnya tercipta ketenteraman dan kita dalam hal menyelesaikan perkara yang berhubungan dengan hukum memang sejatinya harus pertama-tama menghadirkan nilai-nilai kebenaran yuridis,” ucapnya.

Namun demikian timpal Kardinal, kita semua jangan lupa akan nilai kebenaran filosofis dan jangan lupa nilai kebenaran sosiologis. Jadi sebagai orang Dayak, terkenal segala sesuatunya dibawa ke forum yang disebut dengan “Tingan Manuntung Renteng”.

“Artinya mengedepankan musyawarah mufakat kekeluargaan dan belajar satria sebagai orang Dayak yang memiliki citra sikap santun, taat hukum dan taat hukum tentunya tidak ada aturan taat pada pendapat,  sebab pendapat bukan hukum. Jadi semua serahkan penyelesaian kasus dugaan pemalsuan akta otentik PT BMB ini kepada aparat penagak hukum,” tegas Kardinal.

penulis: cnb
editor: alfrid u. gara