Kecewa Harga TBS Sawit Anjlok, Petani Tebangi Sawit

LAMPUNG,canalberita.com–Kebijakan pemerintah pusat terkait ketersediaan dan harga minyak goreng, baik curah maupun kemasan, selalu berubah-ubah. Situasi ini berimbas buruk pada harga pembelian tandan buah segar (TBS) produksi petani sawit swadaya.

Secara perlahan-lahan harga TBS petani sawit swadaya secara nasional terus mengalami penurunan, dari berkisar Rp 3.000-an menjadi minimal Rp 1.200 per kilogram.

Hal ini membuat petani sawit swadaya kecewa. Di Provinsi Lampung, situasi ini disikapi dengan cara yang simpel oleh petani sawit swadaya. Tanpa berfikir panjang, mereka menebang tanaman sawit dan mengganti dengan tanama lain.

“Saya saja melakukan hal itu. Setengah dari perkebunan sawit saya tebang, saya ganti dengan tanaman tebu, pisang dan jagung,” kata Abdullah Simanjuntak kepada InfoSAWIT, Kamis (9/6/2022) siang.

Pria berusia 71 tahun ini adalah petani sawit swadaya sekaligus Ketua DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Provinsi Lampung.

Dirinya tidak takut untuk menebang pohon sawitnya dan diganti dengan tanaman lain karena sudah ada calon pembeli dari setiap tanaman non-sawit yang ditanam.

Ia mencontohkan jagung. Banyak petani sawit menanam jagung di lahan bekas kebun sawit mereka dan sudah panen sebanyak tiga kali dalam setahun.

“Harga jagung sekarang di tingkat penampung sebesar Rp 6.000/kg. Satu hektar jagung sudah bisa menghasilkan minimal Rp 50 juta setahun,” kata dia.

Ia juga sama seperti petani sawit lainnya yang turut menanam tebu dan pisang yang juga gampang dipanen dan usia tanam juga singkat. Untuk tanaman pisang, ia dan para petani sawit lainnya juga sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan asal Korea Selatan selaku pembeli.

Untuk tanaman tebu, mereka sudah bekerjasama dengan sejumlah perusahaan swasta, termasuk PT Gunung Madu Lampung. Begitu juga tanaman lainnya seperti ubi yang juga sudah ada perusahaan penampungnya.

Abdullah Simanjuntak menegaskan, karakteristik pertanian dan perkebunan di Lampung berbeda bila dibandingkan dengan di Provinsi Riau atau Jambi.

Kata dia, petani sawit di dua provinsi itu sudah “tak bisa ke mana-mana lagi” selain ke sawit. Sementara petani sawit di Lampung justru berbeda, harga TBS turun bisa membuat petani sawit swadaya mengubah sebagian kebun sawit mereka jadi kebun lain.

“Di Lampung banyak perusahaan yang menampung hasil pertanian non-sawit. Bicara gula, di sini ada banyak pabrik gula, ubi dan singkong juga banyak. Jadi, kami enggak berlama-lama ambil keputusan kalau mengatasi harga TBS yang jatuh seperti saat ini,” kata Abdullah Simanjuntak.

Sumber: infosawit.com

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.