RSPO Adakan Kunjungan Virtual Kebun Sawit, Kenalkan Sawit Berkelanjutan Ke Generasi Muda

CANALBERITA.COM – Untuk kali ketiga Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) mengadakan kunjungan virtual ke perkebunan kelapa sawit, kali ini melihat bagaimana proses kelapa sawit berkelanjutan dilakukan di kebun kelapa sawit pada Jumat (22/4/2022).

Dalam acara ini RSPO bekerjasama dengan produsen kelapa sawit berkelanjutan, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk, Bumitama Gunajay Agro (BGA) Group, serta lembaga nirlaba Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Indonesia, serta Sebumi, yang dipandu oleh Indonesia Youth Influencer, Aie Natasha.

Pada kesempatan tersebut para anak muda yang tergabung dalam Youth in sustainability (YIS) dari negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, India serta negara lainnya ikut bergabung guna mengetahui lebih jauh proses minyak sawit yang dilakukan secara berkelanjutan.

Tahapan Pilkada 2024

Contoh yang bisa dilihat bagaimana perusahaan perkebunan kelapa sawit dalam memproduksi minyak sawit juga melakukan upaya perlindungan lingkungan dengan tidak membuka areal berkonservasi tinggi menjadi areal kebun sawit, serta dukungan lingkungan yang kondusif bagi para pekerja baik perempuan maupun laki-laki seperti yang dilakukan BGA Group di salah satu anak perusahaanya di Kalimantan Tengah.

Bahkan perusahaan perkebunan kelapa sawit sampai menyediakan lahan khusus yang dijadikan areal konservasi dalam upaya melestarikan satwa dilindungi seperti Orangutan, upaya ini dilakukan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk yang bekerjasama dengan Yayasan BOSF dilakukan di Pulau Salat, Kalimantan Tengah.

Diungkapkan Director of Stakeholder Engagement & Communications, RSPO, Irene Fischbach, acara ini bertepatan dengan hari Bumi yang kerap diperingati setiap tanggal 22 April, yang sudah dimulai semenjak tahun 1970 lalu. Peringatan ini menjadi refleksi apa yang sudah dilakukan dan evaluasi apa yang didapat dalam upaya melindungi bumi dari kerusakan lingkungan. “Salah satunya bisa belajar dari sektor kelapa sawit berkelanjutan,” katanya dalam acara RSPO Virtual Tour: A Journey to Reveal the Sustainable Side of Palm Oil, yang dihadiri InfoSAWIT.

Lebih lanjut tutur Irene, tatkala RSPO dibentuk merupakan bentuk komitmen rantai pasok sawit dalam menerapkan standar kelapa sawit berkelanjutan. “Hingga saat ini kami telah memiliki lebih dari 5000 anggota dengan produksi minyak sawit berkelanjutan (CSPO) sekitar 15 juta ton, dimana sebanyak 60% dipasok dari Indonesia serta memenuhi 20% pasokan global, dengan penggunaan lahan di dunia hanya sekitar 6% saja,” katanya menjelaskan.

Selain itu guna memastikan ketahanan pangan dalam memenuhi pasokan dunia ditengah populasi yang terus berkembang serta dalam kondisi kirisis saat ini, kelapa sawit berkelanjutan bisa menjadi solusi, dengan menerapkan pendekatan yang lebih holistik dalam menyelesaikan tantangan dan kendala yang dialami para growers.

Kami percaya bahwa melalui sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan bisa menjadi upaya dalam melindungi hutan dan satwa liar yang dilindungi, serta menyelamatkan keragaman hayati, termasuk melindungi masyarakat lokal, dan upaya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.

Diakui Irene, semua pihak telah membantu dalam upaya tersebut dan telah banyak diterapkan di perkebunan kelapa sawit, demikian juga dalam upaya mengenalkan proses minyak sawit berkelanjutan yang dilakukan di PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk., BGA Group, dan Yayasan BOSF dengan mengemas kunjungan virtual ke kebun kelapa sawit ini.

Sementara dikatakan Senior Manager Assurance Indonesia, RSPO, Djaka Riksanto, upaya penerapan kelapa sawit berkelanjutan tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi harus secara bersama-sama dengan konsumen, dan mendorong peran generasi muda dalam penggunaan produk minyak sawit yang berkelanjutan.

Kata Djaka, minyak kelapa sawit adalah minyak nabati yang paling banyak digunakan di dunia dengan pangsa pasar sekitar 58% di dunia, bahkan sektor kelapa sawit mampu membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang, juga sebagai penopang pendapatan devisa di Indonesia.

Produk kelapa sawit tidak hanya minyak goreng karena hampir separuh dari produk-produk yang dijual di supermarket mengandung minyak sawit, seperti sabun, shampoo, personalcare, kosmetik dan lainnya,” ungkap Djaka.

Perlu diketahui bahwa kelapa sawit bukan pohon asal Indonesia tetapi merupakan pohon yang berasal dari Afrika tengah, pertama kali dibawa ke Indonesia tahun 1848, ketika orang Belanda membawa empat biji kelapa sawit dari Bourbon, Mauritius, dan Hortus Botanicus, Amsterdam, Belanda. Keempat biji kelapa sawit itu kemudian ditanam di Kebun Raya Bogor dan ternyata berhasil tumbuh dengan subur.

Tahun 2021 produksi minyak sawit Indonesia mampu mencapai 46,8 juta ton dan Malaysia memproduksi minyak sawit sekitar 19 juta ton, hanya saja di Indonesia masih dihadapkan pada kendala produktivitas yang masih cukup rendah. “Dengan meningkatan produktivitas maka peluang untuk memenuhi permintaan pasokan minyak nabati masih sangat besar,” kata Djaka.

Kendati demikian, diakui Djaka, ada dorongan dari sebagian pasar guna beralih menggunakan minyak sawit ke minyak nabati lainnya. Namun demikian cara tersebut justru akan membuka peluang masalah baru, lantaran minyak sawit merupakan minyak nabati dengan penggunaan lahan dengan tingkat efisiensi yang sangat tinggi, misalnya guna menghasilkan 1 ton minyak sawit hanya butuh sekitar 0,26 ha.

Bandingkan dengan minyak bunga matahari yang butuh sekitar 1,43 ha untuk menghasilkan 1 ton minyak bunga matahari. Lantas bila minyak kedelai membutuhkan sekitar 2 ha untuk menghasilkan 1 ton minyak kedelai. “Bila menggunakan minyak nabati lain maka membutuhkan lahan lebih tinggi 4 sampai 7 kali hanya untuk mendapatkan hasil minyak nabati nya,” kata Djaka.

Sebab itu sejatinya minyak sawit berkelanjutan adalah solusi dan jalan tengah bagi pemenuhan pasokan minyak nabati yang terus meningkat di dunia. Saat ini kata Djaka, anggota RSPO telah sebanyak 5000 anggota yang berasal dari 7 sektor, diantaranya growers, ritel, consumer goods, perbankan serta lembaga swadaya lingkungan dan sosial, serta tersebar di lebih 100 negara di dunia.

(sumber: infosawit.com)