Sempat Buron, HAT Ditangkap Kejati Kalteng di Hotel Jakarta

CANALBERITA.COM – Setelah tiga kali mangkir pemanggilan sebagai tersangka, HAT (H Asang Trisna) dijemput paksa oleh Kejaksaan Tinggi Kalimantan Tengah (Kejati Kalteng) dibantu Kejaksaan Agung (Kejagu) pada Kamis 17 Maret 2022 kemarin.

HAT terlibat dalam kasus tindak pidana korupsi jalan tembus antar 11 desa di Kecamatan Katingan Hulu, Kabupaten Katingan dengan kerugian negara senilai Rp 2.107.850.000.

Penangkapan HAT tersebut langsung disampaikan oleh Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Tegah (Kejati Kalteng), Iman Wijaya kepada wartawan, Jumat 18 Maret 2022 pukul 08.00 WIB.

Tahapan Pilkada 2024

Menurut Kajati, HAT diduga menghalang-halangi penyelidikan dengan tidak menghadiri panggilan sebanyak tiga kali sehingga ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO).

“Kurang lebih satu bulan DPO, tersangka HAT berhasil ditangkap di sebuah hotel sekitar Pasar Baru Jakarta Pusat (Jakpus). Yang mana HAT sendiri terlibat tindak pidana korupsi jalan tembus antar 11 desa di Kecamatan Katingan Hulu, Kabupaten Katingan dengan kerugian negara Rp 2,1 miliar,” sebut Iman Wijaya dihadapan awak media.

Dijelaskan Kajati Kalteng, tersangka HAT terlibat secara bersama-sama atas kasus korupsi yang dilakukan oleh terdakwa Hernadie selaku mantan Camat Katingan Hulu atas pembangunan jalan tembus antar 11 desa di kecamatan tersebut.

Yang mana, saat itu Hernadie selaku camat meminta 11 kepala desa untuk membantu pembangunan dengan menyetorkan dana Rp 500 juta satu desa, karena dibawah tekanan 11 kepala desa pun menyanggupi dengan anggaran tahun 2019 berpariasi.

Setelah itu, tersangka HAT ditunjuk sebagai pelaksana pekerjaan yang nota benenya tidak memiliki sertifikat pelaksanaan proyek atau tidak ada pengalaman.

“Perlu diketahui, lokasi tersebut sudah ada jalan, sedangkan tersangka HAT hanya membersihkan saja bukan membuat jalan yang disebutkan dan dia menerima uang Rp 2.107.850.000,” sebutnya.

Ia menambahkan, hasil pemeriksaan untuk 11 kepala desa sejauh ini tidak ada kerterlibat karena mereka dibawah tekanan oleh Hernadie.

“Sejauh ini 11 kades tidak terlibat karena mereka dibawah tekanan. Amun penyelidikan masih terus pendalaman dan tidak menutut kemungkinan bila memang ada fakta lainnya,” tutupnya. (CNB1)