Menghitung Untung Integrasi Sapi-Kelapa Sawit

CANALBERITA.COM  – Akibat hasil kebun sawit plasma yang pas-pasan untuk kebutuhan hidup petani plasma, maka para petani melakukan usaha tambahan yang bisa memberikan hasil lumayan guna meningkatkan kehidupan petani.

Diantaranya adalah beternak sapi di kebun sawit plasma yang telah mereka miliki. Areal kebun kelapa sawit plasma ini merupakan alternatif pengembangan kawasan baru untuk pemeliharaan sapi.

Usaha peternakan dikebun sawit ini dikenal dengan istilah, Integrasi sapi dengan Kebun Sawit. Saat ini tidak banyak perusahaan perkebunan sawit yang melakukan pembinaan terhadap program integrasi Sapi dengan Kebun Sawit ini. Tetapi di kebun-kebun plasma milik petani hal ini telah diterapkan secara mandiri oleh petani.

Tahapan Pilkada 2024

Beberapa petani mendapat bantuan sapi unggul dari pemerintah daerah dan perusahaan besar kepada kelompok tani, dimana jika sapi yang dipelihara mempunyai anak sapi maka anak sapi tersebut menjadi milik petani pemelihara pertama, kemudian pemeliharaan selanjutnya diserahkan kepada petani lain yang berminat. Jika kemudian sapi tersebut kembali beranak maka anak sapi akan menjadi milik petani pemelihara sapi, demikian seterusnya sampai sapi induk tersebut dihibahkan oleh pemerintah atau perusahaan besar tersebut kepada kelompok dan menjadi milik kelompok tani tersebut.

Sebagian petani sawit yang mempunyai kemampuan lebih akan melakukan intergrasi sapi-sawit ini secara mandiri, dimana pengadaan sapi unggul dilakukan secara pribadi dan sapi tersebut dipelihara di kebun plasma milik mereka.

Hal ini telah berhasil dilakukan oleh petani plasma di beberapa daerah, dimana sistem pemeliharaannya dilepas di kebun plasma karena bahan makanan berupa rumput sangat cukup tersedia.

Setidaknya cara integrasi sapi-kelapa sawit ini terdapat 8 keuntungan bagi petani sawit yang juga merangkap sebagai peternak yang menerapkan integrasi sapi-sawit ini diantaranya pertama, diversifikasi penggunaan sumber daya produksi, kedua, mengurangi resiko usaha karena faktor produksi.

Ketiga, efisiensi penggunaan tenaga kerja, keempat, efisiensi penggunaan input produksi, kelima, mengurangi biaya produksi, keenam, mengurangi ketergantungan kimia dan biologi serta sumber masukan lainnya.

(sumber: infosawit.com)