Joss! Rupiah Berjaya Dua Hari Beruntun di Eropa

CANALBERITA.COM – Kurs rupiah bergerak menguat di hadapan euro, poundsterling, dan dolar franc swiss hari ini, Selasa (22/3/2022). Artinya, Mata Uang Tanah Air berhasil menguat selama dua hari beruntun di Benua Biru.

Melansir data Refinitiv, pada pukul 11:30 WIB euro terhadap rupiah melemah 0,13% ke Rp 15.770,65/EUR. Hal yang serupa terjadi pada poundsterling dan dolar franc swiss terhadap Mata Uang Tanah Air terkoreksi yang masing-masing sebanyak 0,17% ke Rp 18.844,42/GBP dan Rp 15.326,28/CHF.

Kepala Analis European Reform Christian Odendahl mengatakan bahwa konflik Rusia-Ukraina dapat menjadi titik balik bagi wilayah Eropa dengan bersatu untuk membuat obligasi bersama.

Tahapan Pilkada 2024

Obligasi bersama akan menjadi sinyal kuat kohesi Eropa dan meningkatkan profil euro. Bahkan, adanya kemungkinan untuk dapat bersaing dengan obligasi Amerika Serikat (AS) sebagai aset cadangan global.

Sebelumnya, Uni Eropa sudah menerbitkan obligasi bersama untuk dana pemulihan setelah Covid senilai 800 miliar euro atau US$ 879 miliar.

Namun, rencana penyetopan gas Rusia ke Eropa dapat menambah lebih dari 130 miliar euro kepada pengeluaran keseluruhan dan memberatkan obligasi di Uni Eropa.

Di zona Inggris, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menggelar pertemuan dengan perusahaan nuklir dan teknologi besar, termasuk Rolls-Royce, EDF Perancis, Westinghouse AS, dan Bechtel untuk mendiskusikan cara-cara untuk mempercepat pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir baru.

Perang Rusia-Ukraina menambah tekanan terhadap komoditas dunia termasuk minyak dan gas dan adanya potensi pembatasan ekspor energi Rusia membuat Inggris mencari alternatif lain untuk pasokan energi mereka.

Jagjit Chadha, Direktur Institute Nasional Penelitian Ekonomi dan Sosial Inggris (NIESR) mengatakan bahwa harga energi dan minyak yang tinggi saat ini membuat Inggris mendekati penurunan aktivitas.

Pekan ini, data inflasi Inggris periode Februari akan dirilis pada Rabu (23/3) pukul 14:00 WIB. Namun, pasar memperkirakan inflasi Inggris akan kembali melonjak seiring melesatnya harga komoditas energi.

Eskalasi geopolitik di Eropa Timur masih menjadi latar belakang penggerak sentimen pasar di Benua Biru. Melonjaknya harga komoditas membuat angka inflasi tinggi dan ketidakpastian arah ekonomi, sehingga menekan performa mata uang euro, poundsterling, dan dolar franc swiss.

(sumber: cnbcindonesia.com)