Menakar Transportasi Buah Sawit Menggunakan Sistem Cableway

canalberita.com — Lahan yang bertopografi rawa atau rendahan, bisa berbukit dan bergelombang termasuk kondisi infrastruktur jalan yang buruk mengakibatkan proses transportasi tandan buah segar (tbs) sawit kerap terkendala. sebab itu dibutuhkan satu sistem transportasi yang jitu, salah satunya dengan menggunakan sistem cableway.

Salah satu kendala di perkebunan kelapa sawit saat usia tanaman sudah masuk TM (Tanaman Menghasilkan) adalah masalah transportasi TBS, yang biasa diangkut dari dalam blok menuju ke PKS (Pabrik Kelapa Sawit). Kondisi topografi di lapangan seperti areal rawa/rendahan, berbukit/gelombang, kondisi jalan produksi yang tidak terawat maupun jalan akses/key road yang selalu rusak menjadi tantangan bagi setiap planter.

Hal ini membuat banyak waktu dan tenaga yang terkuras untuk mengangkut Tandan Buah Segar (TBS) sawit yang pada akhirnya mendorong tingginya biaya transportasi di perkebunan, belum lagi kondisi cuaca ekstrim seperti curah hujan (CH) yang sangat tinggi, banjir atau cuaca panas yang menimbulkan debu sehingga mengganggu masyarakat  sekitar.

Tahapan Pilkada 2024

Terbatasnya Sumber Daya Alam (SDA) seperti material laterit, sirtu, atau krokos sebagai bahan dasar perawatan jalan di kebun, ikut membuat ongkos perawatan jalan (jalan produksi dan key road) sangat tinggi belum lagi mesti menggunakan alat berat dalam perawatan jalan dll.

Faktor sosial dan ketersediaan tenaga kerja juga menjadi salah satu masalah utama dalam pengangkutan TBS ke PKS. Dengan sistem konvensional seperti saat ini memberi peluang masyarakat menuntut diberikan SPK angkut buah yang bisa menimbulkan kecemburuan diantara masyarakat, demikian halnya dengan ketersediaan tenaga kerja untuk muat TBS dimana sudah menjadi kenyataan jika pokok sudah tinggi maka makin sulit mencari pemuat.

Banyaknya truk yang lalu lalang di Desa juga menimbulkan potensi rawan kecelakaan lalu lintas, banyak debu dimusim panas juga mengganggu kesehatan/ lingkungan sekitar sehingga seringkali ada masyarakat yang komplain ke perusahaan yang berakibat dapat menimbulkan konflik sosial. Maraknya pencurian TBS saat ini bisa jadi juga karena didukung oleh banyaknya jaringan jalan yang dibangun oleh kebun sehingga sulit mengontrol semuanya.

Material jalan yang digunakan kebun saat ini berupa tanah laterit, sirtu, krokos dll, semua bahan tersebut merupakan sumber daya alam yang terbatas karena bisa jadi suatu saat material tersebut habis di alam sehingga harus ada alternatif penggantinya.

Besarnya biaya pembangunan infrastruktur jalan seperti kebutuhan jembatan, Box Culvert, gorong-gorong  juga menjadi salah satu penyebab tingginya ongkos produksi  di  kebun, namun dengan adanya sistem cableway, biaya infrastruktur jalan di perkebunan diyakini dapat direduksi.

Suatu ketika Penulis melihat video di youtube tentang transportasi TBS menggunakan sistem cableway di salah satu perkebunan sawit di Colombia, dan ternyata hal ini bisa dilakukan dan kebetulan penulis juga sangat familiar dengan sistem ini, lantaran ada pengalaman bekerja di perkebunan pisang cavendish, maka penulis mencoba menawarkan ide ini untuk diterapkan di perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Banyak manfaat lain dari implementasi sistem ini seperti pemanfaatan lahan dapat lebih dioptimalkan, karena sistem cableway tidak butuh areal khusus lantaran bisa dipasang di dalam barisan tanaman, misalnya di pasar tengah dalam satu blok sehingga lahan bisa optimal karena berkurangnya jaringan jalan (jalan Collection Road (CR) tidak diperlukan lagi) ataupun jalan Main Road (MR) bisa separuhnya saja yang digunakan.

Dengan berkurangnya jalan maka kemungkinan dapat mengurangi kerawanan pencurian TBS sehingga tim security bisa lebih fokus menjaga buah di MR saja karena yang perlu dikontrol adalah di MR saja.

Adanya jaringan cableway yang dipasang di dalam blok juga dapat berfungsi untuk langsir pupuk kedalam blok (pupuk manual maupun mekanis), juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan ecer janjang kosong atau kompos dan atau digunakan oleh tenaga semprot untuk suplai air kedalam blok, sehingga dapat meningkatkan hasil penyemprot. Pada areal rendahan seperti rawa/gambut sistem ini dianggap lebih sesuai karena tidak ada hambatan dalam panen dan pengangkutan TBS walaupun kondisi banjir.

 

Cara Kerja Cableway

Sistem ini sebenarnya sudah diterapkan di beberapa perkebunan kelapa sawit di Colombia, Panama dan Costa Rica sejak tahun 2004 lalu, namun sayang belum dikembangkan lebih jaga oleh negara-negara produsen sawit dunia seperti Indonesia dan Malaysia, sehingga penulis berharap solusi ini bisa menjadi alternatif untuk dikembangkan di Indonesia.

Konsep yang kami tawarkan adalah untuk kebun yang baru mau dibuka ataupun kebun yang sedang replanting, maka layout kebun bisa langsung diintroduksi dengan sistem jaringan cableway. Sedangkan kebun yang sudah existing jaringan kabel bisa dipasang/diinstal di masing-masing pasar tengah blok (jalan kontrol) menuju MR begitupun dari arah sebaliknya dari blok disebelahnya juga dibangun dari pasar tengah menuju MR yang sama tadi, sehingga di jalan MR dibuat kabel doubleway untuk selanjutnya menuju ke suatu titik yang disepakati akan dibuat loading transit conveyor.

Dengan layout yang telah dibuat maka jalan CR dan MR bisa dimatikan dan ditanami/disisip sawit sedangkan jalan MR masih tetap dapat dipertahankan keberadaannya dengan komposisi 1:2 artinya hanya 1 MR yang diaktifkan untuk setiap 2 MR. Keberadaan jalan MR masih diharapkan sebagai akses bagi pimpinan untuk melakukan supervisi/kontrol ke lapangan dan juga untuk mobilisasi alat dan material jika ada kabel yang putus (maintenance and repair cable). Dengan berkurangnya jaringan jalan maka tentunya optimalisasi pemanfaatan lahan dapat ditingkatkan.

Sistem cableway ini sebenarnya juga bisa dikombinasi dengan sistem mekanisasi yang sudah ada saat ini, seperti sistem MTG atau FFB infield collection. Untuk mengeluarkan TBS dari dalam blok bisa juga dengan melakukan sistem semi-mekanisasi dengan memakai traktor yang traillernya di modifikasi untuk tempat dudukan keranjang jaring (tempat muatan TBS) agar TBS dapat dengan mudah  diisi  dan  digantung  di  cableway  nantinya.

Pemanen meletakkan TBS di pasar pikul kemudian traktor mengumpulkan TBS keatas bak trailler modifikasi (seperti sistem FFB infield collection) selanjutnya operator traktor menuju ke cableway dan mengaitkan ujung jaring ke roller yang sudah terpasang diatas kabel. Sedangkan untuk brondolan, setelah selesai dikutip oleh pembrondol kemudian ditakar dan ditumpuk dibawah cable kemudian diangkut bersamaan TBS dengan wadah yang lain (misalnya karung). Setelah TBS dan brondolan sudah terkumpul banyak di cable kemudian ditarik menuju main cable yang ada di eks MR selanjutnya dapat ditarik menggunakan aerial traktor menuju ke lokasi loading ramp transit conveyor, begitu seterusnya.

Atau bisa juga menggunakan cara “loading transit manual” dimana TBS bisa langsung dimuat/ dituang ke atas bak truk yang sudah siap berada dibawah kabel yang melintasi jalan. Untuk kebun yang jaraknya < 3 km dari PKS bisa mempertimbangkan untuk mengirimkan langsung TBS ke PKS dengan membuat jaringan kabel menuju ke PKS, karena TBS bisa langsung ditarik menggunakan aerial traktor dengan kapasitas sekali angkut 3-5 ton, sedangkan jika jarak kebun>3 km sebaiknya/disarankan menggunakan loading transit Komponen utama cableway.

 

(SUmber: InfoSAWIT)