Mangkunegara IX Meninggal karena Sakit Jantung, 33 Tahun Jadi Raja Pura Mangkunegaran

canalberita.com — Kabar duka datang dari Solo. Raja dari Mangkunegaran, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkoenagoro IX akrab dipanggil dengan Mangkoenagoro IX atau Mangkunegara IX. dikabarkan wafat pada Jum’at (13/8/2021) dini hari. Mangkunegara IX wafat di saat dirinya mendekati ulang tahun. Atau tepatnya dia lahir pada 18 Agustus 1951. Maka lima hari lagi ia akan genap berusia 70 tahun.

TribunSolo.com mengonfirmasinya kepada Humas Pura Mangkunegaran, Joko Pramudya.

“Iya benar beliau wafat dini hari tadi pada pukul 02.30 WIB,” katanya pada Jumat (13/8/2021). “Karena sakit jantung,” imbuhnya.

Tahapan Pilkada 2024

Mangkunegara IX wafat di Jakarta dan rencananya akan dimakamkan di Astana Giri Layu, Matesih Karanganyar.

“Untuk proses pemakaman masih dirapatkan dan keterangan resminya akan menyusul,” ujarnya.

Meninggalnya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkoenagoro IX atau lebih dikenal dengan Mangkoenagoro IX atau Mangkunegara IX menjadi duka mendalam bagi warga Solo. Mangkunegara IX wafat pada Jum’at (13/8/2021) dini hari.

Sosoknya ternyata telah menjadi raja di Pura Mangkunegaran selama 33 tahun lamanya. Dalam prosesi suksesinya menjadi raja ada sebuah cerita di baliknya.

Pasalnya setelah ayahnya, Mangkunegara VIII wafat pada 2 Agustus 1987, ada kekosongan jabatan raja nyaris setahun lamanya. Barulah pada 24 Januari 1988 atau 2 Jumadilakhir 1920 Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkoenagoro IX dinobatkan sebagai raja. Sebelum menjadi raja dirinya memilik nama kecil Gusti Pangeran Haryo Sudjiwo Kusumo.

Sebagai seorang pecinta budaya Jawa, proses penobatannya dilakukan dengan penuh tradisi dan tari. Maka digelarlah Tari Bedhaya Anglir Mendhung dan Tari Palguna Palgunadi.

Selama masa kepemimpinannya, Pura Mangkunegaran membuka diri hingga gerbang internasional.

Meski secara politik dia tidak memiliki peran, namun kekuasannya dalam budaya juga ikut membantu mengenalkan Indonesia di mata dunia.  Terutama mengenai budaya Jawa.

Terlihat dari beragam festival yang dilaksanakan dari kirab pusaka hingga sejumlah agenda lainnya.

Kini setelah Mangkunegara IX berpulang, masih menjadi teka-teki siapakan penggantinya yang akan menjadi raja di Pura Mangkunegaran.

Bila menelisik dari keturunan putra putrinya ada 4 yaitu Paundrakarna, GRA Putri Agung Suniwati, Ancillasura Marina Sujiwo, dan GPH Bhre Cakrahutama Wira Sudjiwo.

Peringatan Naik Tahta 2016 Lalu

Puluhan kerabat dan abdi dalem (pengabdi) Pura Mangkunegaran, Solo, mengikuti peringatan naik tahta Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara IX, Selasa (11/10/2016).

Menurut informasi Pengageng Wedono Satriyo Mangkunegaran, KRMT Lilik Priarso Tirtodiningrat, mengatakan, prosesi merupakan peringatan naik tahta yang ke-29 Sampeyan Ingkang Jumeneng (SIJ) KGPAA Mangkunegara IX.

“Diperingati tepat pada tanggal 9 Suro, tanggal Jawa, dengan prosesi utama wilujengan atau selametan,” ungkapmya saat ditemui TribunSolo.com usai acara.

Peringatan naik tahta ke-29 tahun ini dikatakannya sederhana.

“Menurut dawuh (perintah) dari beliau (Mangkunegara IX) peringatan cukup dengan wilujengan saja.”

“Artinya tanpa kepyakan atau resepsi, seperti tari-tarian dan pemberian gelar kepada abdi dalem,” jelas KRMT Lilik.

Berlangsung sederhana, acara dimulai sekitar pukul 10.30 WIB di Paringgitan Mangkunegaran.

Diikuti oleh puluhan kerabat dan abdi dalem (pengabdi) Mangkunegaran.

Prosesi pertama dilangsungkan doa yang dipimpin oleh Purwanto, Kepala Masjid Mangkunegaran Al Wustho.

Keluarga dan abdi dalem mengelilingi sesaji yang disiapkan di Paringgitan untuk didoakan sebagai syarat ucap syukur.

Sesaji yang disiapkan berupa tumpeng, palawijen, jajanan pasar, dan ingkung (ayam utuh).

Jumlah tumpeng yang didoakan sebanyak 29, tepat dengan usia naik tahta yang ke-29 KGPAA Mangkunegara IX sejak dilantik pada 1987 silam.

Tumpeng bersama sesaji lain disediakan dan dapat dibawa atau dinikmati oleh kerabat maupun abdi dalem Pura Mangkunegaran.

KRMT Lilik menambahkan, meskipun tidak ada resepsi, intinya nilai dari wilujengan ini tersampaikam dan tepat.

“Mendoakan beliau (Mangkunegara IX) dan mengucap syukur atas kepemimpinannya hingga ke depan,” tutupnya.

 

(Sumber: Tribun Solo