Ramai soal Ajakan Tidak Upload Berita Corona, Ini Kata Satgas Covid-19

canalberita.com — Poster digital berisi ajakan untuk berhenti mengunggah berita seputar Covid-19 ramai beredar di media sosial.

Poster-poster tersebut berisi narasi yang sebagian besar sama, kurang lebih sebagai berikut:

“Warga (Kabupaten/Kota) kompak untuk tidak upload berita tentang Covid-19 biar masyarakat tenang dan tenteram,”

Tahapan Pilkada 2024

Poster tersebut beredar di grup-grup komunitas daerah yang ada di Facebook, akun-akun Instagram, maupun Twitter.

 

Tanggapan Satgas

 

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, saat ini pemerintah terus berusaha transparan dan massif menyampaikan update terkait Covid-19.

Tujuannya adalah agar dapat terbentuk kewaspadaan di masyarakat, sehingga dapat menghasilkan perilaku masyarakat yang lebih hati-hati.

Menanggapi beredarnya poster-poster ajakan untuk berhenti mengunggah berita seputar Covid-19, Wiku mengatakan ketakutan berlebih dan berujung sikap abai adalah sesuatu yang cenderung tidak baik.

“Kita semua perlu memahami bahwa segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, ketakutan berlebih dan bersikap terlalu abai,” kata Wiku saat dihubungi Kompas.com, Rabu (14/7/2021).

“Oleh karena itu saat ini tujuan pemerintah terus berusaha transparan dan massif menyampaikan update terkait Covid-19, agar kewaspadaan dapat terbentuk untuk menghasilkan perilaku masyarakat yang hati-hati,” kata Wiku melanjutkan.

Wiku mengatakan, informasi seputar Covid-19 tidak masalah disebarkan, selama informasi itu berdasarkan data ilmiah dan sesuai dengan fakta di lapangan.

“Terkait dengan informasi Covid-19 yang baik disebarkan, ialah informasi yang berdasarkan data ilmiah dan fakta di lapangan,” ujar Wiku.

 

Indikasi gangguan mental

 

Sementara itu, psikolog klinis dari Universitas Indonesia (UI) Nael Sumampouw menyampaikan, tindakan mengabaikan segala informasi terkait Covid-19 berdampak pada sikap masa bodoh.

“Jika mengabaikan, bisa berdampak pada tindakan masa bodoh, misalnya terhadap protokol kesehatan. Hal ini malah menjadi indikator masalah kesehatan mental,” kata Nael, seperti diberitakan Kompas.com, Rabu (14/7/2021).

Menurut Nael, individu harus tetap memegang kendali diri saat menghadapi eksposur berita-berita seputar Covid-19.

Dengan memegang kendali diri, kemungkinan besar individu akan berada dalam kondisi mental yang baik ketika dihadapkan dengan berita-berita semacam itu.

“Jangan sampai berita-berita tersebut mengendalikan diri atau kondisi kesehatan mental tiap orang,” ujar Nael.

Selain itu, diperlukan sikap kritis, pilih, dan pilah saat menerima berita terkait Covid-19, yang disesuaikan dengan prinsip kesehatan diri sebagai prioritas, termasuk memberi prioritas pada kondisi kesehatan mental diri.

(Sumber: Kompas.com)