harga CPO global turun naik

FAPA dan Triputra Agro Persada Melantai di BEI

–Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) global terkoreksi hingga 363 poin untuk kontrak Agustus 2021. Posisi harga CPO kini berada pada kisaran 3.663 ringgit per ton. Harga komoditas ini sempat menyentuh ke posisi tertinggi di kisaran 4.000 ringgit per ton sejak akhir 2020 lalu.

Melansir dari laman web liputan6.com, lembaga riset Fitch Solutions memperkirakan pada 2021, harga CPO global bakal berada di kisaran 3.400 ringgit per ton. Angka ini lebih tinggi dibandingkan estimasi yang dikeluarkan Fitch Solutions sebelumnya pada level 3.050 ringgit per ton.

Kendati demikian naik turunnya harga sawit dinilai tidak mengurangi momentum bagi calon emiten sawit yang ingin melantai di bursa pada tahun ini. Hal ini karena penawaran saham perdana dari emiten sawit tetap dinanti investor lantaran menjanjikan kinerja dan prospek pasar yang cerah.

Tahapan Pilkada 2024

Sepanjang tahun ini setidaknya dua perusahaan di bidang perkebunan dan industri kelapa sawit telah melantai di bursa. PT FAP Agri Tbk (FAPA) menjadi perusahaan pertama yang mencatatkan saham pada awal 2021, tepatnya 4 Januari lalu.

Selain itu, perusahaan perkebunan kelapa sawit milik Group Triputra, Triputra Agro Persada berhasil menjadi emiten sawit yang melantai di BEI pada 12 April 2021.

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee menilai jika kondisi harga tersebut masih dalam taraf wajar. Sebab, melesatnya harga CPO sejak akhir tahun lalu dirangsang banyak faktor seiring pandemi yang terjadi sejak 2020.

Harga yang melesat tinggi, menurut Hans, merupakan imbas perekonomian yang terhenti. Dari sisi distribusi mengalami pukulan berat.

“Kalau diamati, [tahun ini] ekonomi mulai jalan tapi bahan baku belum masuk. Selama lockdown ekonomi jalan tapi bahan baku tidak datang, sehingga 2021 waktu mulai jalan lagi ekonomi, kekurangan bahan baku. Karena itu permintaan bahan baku di berbagai negara meningkat makanya demand tinggi mendorong harga naik, tapi yang naik lebih banyakbiaya transportasi,” jelas dia.

Hans menilai akan terjadi siklus harga untuk komoditas seperti sawit hingga komoditas energi lainnya antara lain batu bara. Namun, lanjutnya, untuk batu bara akan sulit bergerak karena didera isu lingkungan yang lebih berat dibandingkan sawit.

Di sisi lain, permintaan sawit akan terus ditopang dengan adanya upaya hilirisasi komoditas tersebut. “CPO jadi menarik karena ada isu B20 dan B30. Meski terus ada black campaign dituding tidak ramah lingkungan. Dan lagi, harga CPO paling murah dari 17 minyak nabati,” terangnya.

Walau demikian, hal tersebut tidak mengurangi momentum bagi calon emiten sawit yang berhasrat melantai di bursa pada tahun ini.

Menurut Hans, IPO dari emiten sawit tetap dinanti para investor karena menjanjikan kinerja dan prospek pasar yang cerah.

“Jadi kalau mau bilang komoditas bagus yang mau IPO kalau memenuhi standar aturan, pembukaan lahan dan lainnya yang sesuai aturan standar, bisa jual harga tinggi dan saham bagus,” tegasnya.

(redCNB)